
Raksasa teknologi asal Amerika Serikat Nvidia, belakangan ini lebih memilih Malaysia sebagai destinasi investasi dibanding Indonesia. Salah satu faktor utamanya adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Nurul Ichwan, menjelaskan bahwa kualitas SDM menjadi pertimbangan penting bagi Nvidia. Padahal, pemerintah Indonesia telah menyiapkan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Nongsa di Batam untuk menarik minat perusahaan tersebut.
Yang saya dengar, mereka memilih Malaysia karena melakukan pendataan jumlah lulusan master dan PhD di bidang komputer yang tersedia di Indonesia dan Malaysia. Berdasarkan observasi mereka, Malaysia memiliki lebih banyak lulusan PhD dan master di bidang tersebut, ujar Nurul, ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Sabtu (10/1/2026).
Karena itu, menurut Nurul, Indonesia perlu segera mengambil langkah strategis untuk memperkuat kualitas SDM, terutama dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM).
Ke depan, STEM harus menjadi arus utama dalam peningkatan kualitas SDM, tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya perguruan tinggi untuk mencetak lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri global saat ini.
Pemerintah dan universitas—baik negeri maupun swasta—harus memastikan tidak memproduksi SDM yang tidak relevan dengan kebutuhan masa depan. Industri saat ini sangat bergantung pada penguasaan teknologi, tambahnya.
Pandangan CEO Nvidia Soal Pajak di Silicon Valley
Di sisi lain, CEO Nvidia Jensen Huang membuat pernyataan mengejutkan terkait polemik rencana penerapan Pajak Miliarder California. Saat banyak tokoh teknologi menolak keras kebijakan tersebut dan mempertimbangkan pindah dari California, Huang justru menyatakan tidak mempermasalahkannya.
Dalam sebuah wawancara, Huang mengaku isu pajak bahkan tidak menjadi pertimbangannya.
Menurutnya, keberadaan Nvidia di Silicon Valley bukan didasarkan pada pajak, melainkan pada kekuatan talenta dan inovasi teknologi yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Kami bekerja di Silicon Valley karena di sanalah talenta terbaik berada, ujar Huang, dikutip dari Tuna55, Jumat (9/1/2026).
Berbeda dengan Para Miliarder Teknologi Lain
Pernyataan Huang ini berseberangan dengan sejumlah miliarder teknologi yang terang-terangan menentang rencana Pajak Miliarder California. Beberapa bahkan telah memindahkan atau berencana memindahkan bisnis mereka ke negara bagian lain.
Tokoh seperti Peter Thiel dan Larry Page disebut pernah mempertimbangkan hengkang dari California demi kebijakan pajak yang lebih ramah.
Perbedaannya semakin jelas ketika Thiel Capital mengumumkan pembukaan kantor baru di Miami pada akhir 2025. Sementara itu, tokoh teknologi lainnya seperti David Sacks—penasihat AI Presiden AS Donald Trump—dan investor Chamath Palihapitiya juga menyuarakan keberatan mereka melalui media sosial.
Sacks diketahui membuka kantor di Austin, Texas, yang kini menjadi magnet baru bagi para eksekutif teknologi yang ingin menghindari tingginya pajak dan biaya hidup di California.