You are currently viewing Samsung Raup Rp 436 Triliun dari Bisnis DRAM, Harga Ponsel Galaxy Bisa Naik

Samsung Raup Rp 436 Triliun dari Bisnis DRAM, Harga Ponsel Galaxy Bisa Naik

Di tengah situasi ini, divisi DRAM Samsung justru mencatat performa luar biasa. Mengutip laporan Counterpoint via 9to5Google, Sabtu (10/1/2026), Samsung membukukan penjualan DRAM tertinggi pada kuartal IV 2025, dengan pendapatan mencapai USD 25,9 miliar (sekitar Rp 436 triliun). Angka ini naik 34 persen dibanding kuartal sebelumnya dan menyumbang sekitar 40 persen dari total penjualan perusahaan.

Lonjakan harga RAM dalam beberapa bulan terakhir mulai menimbulkan kekhawatiran di industri, karena ketersediaan memori yang semakin terbatas berpotensi mendorong harga perangkat Android naik.

Keberhasilan ini menempatkan Samsung di posisi teratas industri memori global, mengungguli rival seperti SK Hynix dan Micron. Permintaan tinggi, terutama untuk kebutuhan kecerdasan buatan (AI), menjadi faktor utama lonjakan pendapatan DRAM.

Kenaikan Harga Memori Samsung Dorong Potensi Naik Harga Ponsel

Keterbatasan pasokan memori mulai memengaruhi harga produk konsumen. Presiden Samsung, Wonjin Lee, memperingatkan bahwa kenaikan harga DRAM dapat berdampak pada penentuan harga ponsel, termasuk seri Galaxy S26.

“Harga terus naik saat ini. Kami tidak ingin membebankan konsumen, tetapi ada titik di mana penyesuaian harga produk harus dipertimbangkan,” kata Lee, dikutip 9to5Google.

Fenomena ini juga terjadi pada RAM standar DDR5, yang mengalami kenaikan harga signifikan karena produsen memprioritaskan produksi memori untuk AI dan HBM, sehingga kapasitas untuk ponsel dan laptop lebih terbatas.

Dampak ke Produsen Ponsel

Kenaikan harga RAM bisa mendorong produsen ponsel, termasuk Samsung dan Xiaomi, untuk menyesuaikan harga jual perangkat mereka. Model entry-level paling rentan karena RAM menyumbang proporsi besar biaya produksi.

Beberapa strategi yang mungkin ditempuh produsen untuk menjaga margin termasuk:

Mengurangi kapasitas RAM (misal, ponsel 16 GB menjadi lebih jarang, model 4–6 GB muncul kembali di segmen murah).

Mengalihkan fokus ke kapasitas penyimpanan, dengan RAM lebih kecil, sambil mengandalkan teknologi kompresi atau RAM virtual.

Memangkas spesifikasi lain, seperti jumlah kamera, kualitas layar, wireless charger, atau sertifikasi tahan air, terutama pada ponsel entry-level.

Asus Pertimbangkan Produksi RAM Sendiri

Krisis memori global juga berdampak pada laptop dan PC. Asus, sebagai salah satu produsen utama, Tuna55 disebut tengah mempertimbangkan langkah strategis untuk memproduksi RAM sendiri mulai 2026, meski perusahaan resmi membantah rencana tersebut (Digital Trends, 30/12/2025).

Ketatnya pasokan DDR4 dan DDR5 di pasar global, di mana Samsung, Micron, dan SK Hynix memprioritaskan kapasitas untuk pusat data AI, membuat RAM untuk perangkat konsumen terbatas. Hal ini mendorong kenaikan harga laptop dan menekan posisi tawar produsen seperti Asus.

Leave a Reply