You are currently viewing Dari Meja Makan Keluarga ke Rumah Pasien: Perjalanan Joyce Er Membentuk Masa Depan Keperawatan Singapura

Dari Meja Makan Keluarga ke Rumah Pasien: Perjalanan Joyce Er Membentuk Masa Depan Keperawatan Singapura

Keperawatan bagi Joyce Er bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hidup. Di keluarganya, profesi ini menjadi pengikat—tiga anggota keluarga lain juga perawat—menciptakan ruang percakapan yang sarat empati dan pemahaman tentang pelayanan.

Dengan pengalaman hampir tiga dekade, Joyce kini berada di garis depan transformasi layanan kesehatan. Ia memimpin pendidikan dan pelatihan keperawatan di NUHS@Home, layanan yang memungkinkan pasien menerima perawatan setara rumah sakit di rumah, serta berpraktik sebagai Perawat Praktik Lanjutan di Rumah Sakit Alexandra.

Kariernya berawal pada 1999 usai lulus dari Politeknik Nanyang. Ia mengasah kemampuan klinis di Rumah Sakit Wanita dan Anak KK, lalu menghadapi ujian besar saat SARS 2003, ketika ia membantu membangun ICU pediatrik sementara di Rumah Sakit Tan Tock Seng. Pengalaman krisis ini memperluas pandangannya tentang peran perawat dalam sistem kesehatan.

Pendidikan lanjutan di Universitas Sydney dan pengalaman kerja di Rumah Sakit Royal North Shore memperkaya perspektif internasionalnya. Sekembali ke Singapura, ia berkontribusi besar dalam pengembangan layanan kanker wanita, termasuk skrining, uji klinis, dan program kelangsungan hidup pasien.

Peran Joyce semakin strategis ketika ia memimpin inisiatif efisiensi dokumentasi keperawatan—memangkas duplikasi, mendigitalisasi proses, dan meningkatkan produktivitas—yang kemudian diadopsi di berbagai institusi NUHS. Di NUHS@Home, ia memperkenalkan kerangka Entrustable Professional Activities untuk menilai kesiapan perawat bekerja mandiri di lingkungan berbasis rumah, serta pelatihan simulasi darurat guna memperkuat respons klinis saat kunjungan rumah.

Menurut Joyce, perawat masa kini membutuhkan ketangkasan, pemikiran kritis, dan keberanian. Lanskap kesehatan yang terus berubah menuntut adaptasi cepat terhadap teknologi dan model perawatan baru. Keperawatan, katanya, tak lagi berjalan pada satu jalur lurus—tersedia lintasan klinis, pendidikan, riset, manajemen, inovasi, hingga peran hibrida.

Nasihatnya sederhana namun tegas: datanglah dengan keterbukaan dan kemauan belajar seumur hidup. “Keperawatan memberi tujuan dan kesempatan untuk berdampak nyata,” ujarnya—sebuah keyakinan yang kini ia tularkan, dari rumah sakit hingga ke rumah-rumah pasien. Tuna55

Leave a Reply