You are currently viewing Salju Makin Langka, Olimpiade Musim Dingin Terancam

Salju Makin Langka, Olimpiade Musim Dingin Terancam

Olimpiade Musim Dingin selama ini identik dengan hamparan salju tebal dan pegunungan bersuhu ekstrem. Namun, gambaran tersebut perlahan mulai memudar. Perubahan iklim membuat salju alami semakin sulit diprediksi, memunculkan kekhawatiran serius terhadap masa depan ajang olahraga musim dingin terbesar di dunia.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa jumlah lokasi yang layak menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin akan terus menyusut. Dari puluhan kawasan pegunungan yang saat ini memiliki infrastruktur olahraga musim dingin kelas dunia, hanya sebagian kecil yang diperkirakan masih aman secara iklim dalam beberapa dekade mendatang.

“Perubahan iklim akan mengubah lokasi di mana Olimpiade Musim Dingin bisa digelar. Itu tidak terhindarkan,” ujar Daniel Scott, profesor dari University of Waterloo, seperti dikutip Associated Press.

Lokasi Kian Terbatas

Saat ini terdapat sekitar 93 lokasi pegunungan di dunia yang memiliki fasilitas olahraga musim dingin tingkat elite. Namun, pada 2050-an, jumlah lokasi yang masih memiliki suhu cukup dingin dan ketebalan salju memadai diperkirakan menyusut menjadi sekitar 52.

Kondisi tersebut berpotensi memburuk menjelang akhir abad ini. Pada 2080-an, jumlah lokasi yang layak diperkirakan tinggal sekitar 30, bergantung pada sejauh mana dunia mampu menekan laju emisi karbon.

Sejumlah kota yang sebelumnya dikenal sebagai pusat olahraga musim dingin kini mulai tersisih. Beberapa wilayah di Prancis, Jerman, dan Rusia dinilai semakin tidak stabil secara iklim. Bahkan kota-kota seperti Vancouver dan Oslo kini masuk kategori berisiko.

Salju Buatan Jadi Penopang

Untuk mengatasi kelangkaan salju alami, penyelenggara Olimpiade semakin bergantung pada salju buatan. Teknologi ini sebenarnya bukan hal baru. Salju buatan telah digunakan sejak Olimpiade Musim Dingin 1980 dan hampir sepenuhnya dimanfaatkan saat Beijing menjadi tuan rumah pada 2022.

Namun, salju buatan bukan solusi tanpa konsekuensi. Proses pembuatannya membutuhkan air dan energi dalam jumlah besar. Untuk Olimpiade Musim Dingin di Italia, panitia memperkirakan ratusan juta liter air diperlukan hanya untuk menjaga lintasan ski tetap tertutup salju.

Ironisnya, banyak kawasan pegunungan justru mengalami penurunan curah salju alami dan tekanan terhadap ketersediaan sumber air. Jika energi yang digunakan berasal dari bahan bakar fosil, produksi salju buatan juga berpotensi memperparah emisi karbon.

Jejak Iklim Olimpiade

Masalah Olimpiade Musim Dingin tidak hanya berhenti pada ketersediaan salju. Ajang ini juga meninggalkan jejak iklim besar, mulai dari mobilitas global atlet dan penonton, pembangunan infrastruktur berskala masif, hingga konsumsi energi tinggi selama penyelenggaraan.

Menyadari hal tersebut, Komite Olimpiade Internasional mulai mempertimbangkan berbagai langkah penyesuaian. Di antaranya membatasi jumlah cabang olahraga, mengurangi jumlah atlet dan penonton, serta merotasi lokasi tuan rumah agar tidak terus membangun fasilitas baru.

Bahkan, opsi menggelar Olimpiade Musim Dingin pada waktu yang lebih awal dari kalender biasa juga mulai dibahas.

Alarm dari Pegunungan

Krisis salju menjadi peringatan nyata bahwa perubahan iklim bukan isu masa depan. Dampaknya sudah terasa dan kini mengancam keberlangsungan ajang olahraga global. Jika suhu bumi terus meningkat, Olimpiade Musim Dingin mungkin tetap digelar—namun tidak lagi dalam bentuk yang kita kenal selama ini. Tuna55

Leave a Reply