Kebijakan Work From Anywhere (WFA) diprediksi akan menjadi salah satu pendorong utama meningkatnya pergerakan wisata domestik di Indonesia. Fleksibilitas bekerja dari mana saja membuat jutaan masyarakat memiliki kebebasan lebih dalam mengatur waktu dan lokasi kerja, termasuk memadukannya dengan aktivitas perjalanan. Pemerintah dan pelaku industri pariwisata menilai tren ini sebagai peluang besar untuk menggerakkan ekonomi nasional, khususnya sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.
Berdasarkan berbagai kajian, penerapan WFA berpotensi mendorong hingga 105 juta orang untuk melakukan perjalanan di dalam negeri. Angka ini mencerminkan perubahan perilaku masyarakat modern yang tidak lagi terikat pada kantor fisik, tetapi tetap produktif meski bekerja dari destinasi wisata.
WFA Perubahan Pola Kerja dan Gaya Hidup
Penerapan WFA bukan sekadar kebijakan ketenagakerjaan, melainkan telah menjadi bagian dari transformasi gaya hidup. Pekerja kini lebih mengutamakan keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi. Dengan WFA, seseorang bisa bekerja di pagi hari, lalu menikmati destinasi wisata lokal di sore atau akhir pekan tanpa harus mengambil cuti panjang.
Fenomena ini mendorong munculnya konsep workcation, yaitu bekerja sambil berlibur. Destinasi yang sebelumnya sepi di hari kerja kini berpeluang ramai oleh pekerja jarak jauh yang membutuhkan koneksi internet stabil, suasana nyaman, dan fasilitas pendukung lainnya.
Dampak Positif bagi Pariwisata Domestik
Bagi sektor pariwisata, WFA menjadi katalis penting dalam pemerataan kunjungan wisata. Tidak hanya kota besar atau destinasi populer, daerah-daerah dengan potensi alam dan budaya juga berpeluang menikmati dampaknya. Penginapan, kafe, ruang kerja bersama, hingga pelaku UMKM lokal akan merasakan peningkatan permintaan.
Di sisi lain, wisata domestik yang tumbuh karena WFA cenderung lebih berkelanjutan. Wisatawan tidak akan hanya datang singkat, tetapi agar tinggal lebih lama. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan belanja lokal, mulai dari akomodasi, kuliner, transportasi, hingga produk kreatif daerah.
Tantangan Infrastruktur dan SDM
Meski peluangnya besar, penerapan WFA sebagai penggerak pariwisata juga menghadapi tantangan. Ketersediaan infrastruktur digital menjadi faktor krusial. Akses internet cepat dan stabil masih belum merata di seluruh wilayah. Selain itu, kesiapan sumber daya manusia di sektor pariwisata untuk melayani wisatawan dengan kebutuhan kerja juga perlu ditingkatkan.
Pelatihan digital, peningkatan kualitas layanan, serta pengembangan fasilitas ramah pekerja jarak jauh menjadi langkah penting agar manfaat dapat dirasakan secara optimal dan merata.
Peluang Ekonomi Jangka Panjang
Jika dikelola dengan baik, Tuna55 dapat menjadi strategi jangka panjang untuk memperkuat wisata domestik di Indonesia. Pergerakan 105 juta wisatawan domestik bukan hanya soal angka, tetapi tentang menciptakan ekosistem pariwisata yang adaptif terhadap perubahan zaman.
Kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat lokal menjadi kunci keberhasilan. Dengan regulasi yang tepat, dukungan infrastruktur, dan promosi yang terarah, WFA berpotensi menjadi motor baru penggerak pariwisata nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi daerah.
Pada akhirnya, WFA bukan hanya mengubah cara orang bekerja, tetapi juga cara orang bepergian dan menikmati keindahan negeri sendiri.