Kasus child grooming semakin menjadi perhatian serius di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi sosial anak.
Child grooming merupakan bentuk pendekatan tidak pantas yang dilakukan oleh orang dewasa atau remaja yang lebih tua untuk membangun kedekatan emosional dengan anak, dengan tujuan memanipulasi psikologis korban. Praktik ini berbahaya karena kerap terjadi secara halus dan bertahap, sehingga sulit disadari baik oleh anak maupun orangtua. Dampaknya pun tidak ringan, mulai dari gangguan psikologis hingga trauma jangka panjang.
Guru Besar Psikologi Soal Child Grooming
Guru Besar Psikologi dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menegaskan bahwa peran orangtua menjadi kunci utama dalam upaya pencegahan child grooming. Menurutnya, langkah paling mendasar adalah memastikan anak mendapatkan perhatian yang cukup di lingkungan rumah maupun sekolah. Anak yang merasa aman, nyaman, dan diperhatikan cenderung tidak mencari dukungan emosional dari pihak luar yang berpotensi berbahaya.
Selain perhatian, sikap menghargai anak juga sangat penting, terutama ketika mereka memasuki fase remaja yang penuh gejolak emosi. Orangtua perlu menghindari sikap menghakimi dan sebaliknya berusaha menjadi pendengar yang baik. Dengan merasa dihargai, anak akan lebih terbuka untuk menceritakan masalah, perasaan, maupun pengalaman yang dialaminya. Komunikasi dua arah yang sehat dapat menjadi benteng awal untuk mencegah manipulasi emosional dari orang lain.
Pentingnya Memberi Ruang Bagi Anak
Rose juga menekankan pentingnya memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan diri dan mengeksplorasi minat serta aktivitas yang disukai. Ketika anak merasa bebas dan didukung, mereka tidak merasa perlu menyembunyikan kegiatan atau pergaulannya. Transparansi ini sangat penting agar orangtua dapat memahami dunia anak dan mengenali potensi risiko sejak dini.
Di sisi lain, orangtua juga perlu membantu anak membangun pemahaman tentang konsep diri. Anak yang mengenal dirinya dengan baik, memiliki kepercayaan diri, dan mandiri secara emosional tidak mudah bergantung pada sosok lain. Kemandirian ini membuat anak lebih mampu menetapkan batasan dalam hubungan sosial.
Tak kalah penting, orangtua perlu memperhatikan kehidupan sosial anak. Anak yang tampak menarik diri, kesepian, atau tidak memiliki teman perlu mendapat perhatian lebih karena kondisi tersebut bisa menjadi celah terjadinya child grooming. Dengan keterlibatan aktif orangtua, dukungan sekolah, dan lingkungan yang peduli, risiko anak menjadi korban child grooming dapat ditekan sejak dini. Tuna55