
Lonjakan penggunaan aset kripto untuk pencucian uang kembali jadi sorotan setelah riset terbaru menyebut jaringan pencucian
uang berbahasa Mandarin memproses dana ilegal sekitar US$16,1 miliar sepanjang 2025—yang dalam pemberitaan Indonesia
sering dikonversi menjadi sekitar Rp 268 triliun. Angka ini muncul di tengah kenaikan total aktivitas pencucian uang berbasis
kripto yang diperkirakan mencapai US$82 miliar pada 2025.
Apa maksud dari “jaringan kejahatan China” di laporan ini? Pencucian Uang
Yang dimaksud bukan “negara”, melainkan ekosistem kelompok kriminal berbahasa Mandarin yang menyediakan layanan
“keuangan gelap” lintas negara: menampung, mengonversi, memecah transaksi, lalu menyalurkan dana menggunakan kripto.
Dalam laporan riset, kelompok ini disebut tumbuh pesat sejak masa pandemi, dan kini menjadi salah satu kategori jaringan
pencucian uang kripto yang paling cepat berkembang.
Kenapa nilainya bisa sebesar itu?
1) Skala transaksi harian yang konsisten
Riset menyebut jaringan ini memproses kira-kira US$44 juta per hari dan memanfaatkan ribuan dompet (wallet)
aktif untuk mengalirkan dana sepanjang 2025. Dengan pola “banyak transaksi kecil” yang berulang, akumulasi
tahunan menjadi sangat besar.
2) Efek “jasa perantara” untuk berbagai jenis kejahatan
Jaringan pencucian uang biasanya tidak hanya melayani satu tindak pidana. Mereka menjadi perantara bagi banyak
sumber dana ilegal: penipuan online, perjudian ilegal, pemerasan, hingga kejahatan terorganisir lintas negara. Karena
model bisnisnya berupa “jasa”, skalanya cenderung mengikuti permintaan pasar kriminal global.
Modus yang sering dipakai: dari stablecoin sampai platform “jaminan”
1) Mengandalkan stablecoin agar “nilai tidak berayun”
Banyak pelaku memakai stablecoin agar nilai dana relatif stabil saat dipindahkan cepat lintas jaringan dan lintas platform.
Ini membuat proses “parkir dana” dan pemecahan transaksi lebih efisien dibanding aset kripto yang volatil.
2) Rekrutmen klien lewat aplikasi pesan dan layanan escrow
Pemberitaan menyebut jaringan ini memanfaatkan kanal komunikasi seperti Telegram untuk mencari klien, koordinator,
dan “operator” yang mengatur alur dana. Selain itu, muncul “platform jaminan/guarantee” (mirip escrow) untuk
mempertemukan penyedia jasa pencucian uang dengan pengguna jasa, sekaligus mengurangi risiko penipuan antar pelaku kriminal.
Dampaknya ke ekosistem kripto dan penegakan hukum
Risiko reputasi dan pengawasan yang makin ketat
Makin besarnya angka pencucian uang mendorong regulator dan bursa memperketat KYC/AML, pemantauan
transaksi on-chain, serta pembekuan aset yang terindikasi terkait kejahatan. Ini berdampak langsung ke pengguna
biasa: proses verifikasi bisa lebih ketat dan beberapa layanan berisiko dibatasi Tuna55.
Tantangan utama: identitas di balik wallet
Blockchain memang transparan—alamat wallet dan perpindahan dana tercatat—namun menghubungkan alamat itu
ke identitas asli tetap sulit tanpa data dari bursa, penyedia layanan, atau hasil investigasi. Karena itu, riset menilai
estimasi yang ada bisa saja masih underestimate.
Apa yang bisa dilakukan pengguna dan industri?
Bagi pengguna, langkah paling realistis adalah menghindari “jalan pintas”: jangan menerima titipan dana kripto
dari orang tak dikenal, waspadai tawaran kerja sebagai “rekening penampung/crypto mule”, dan gunakan bursa
yang patuh regulasi. Untuk industri, penguatan analitik on-chain, pelaporan transaksi mencurigakan, dan kerja
sama lintas negara jadi kunci—karena jaringan ini bergerak global, bukan lokal.