Bekraf Dorong Perlindungan Intelektual Karya Mahasiswa di Kampus – Kementerian Ekonomi Kreatif bersama Badan Ekonomi Kreatif
telah mendorong keterlibatan aktif perguruan tinggi dalam memperkuat Intelektual Properti (IP) atau Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
pada produk ekonomi kreatif hasil karya mahasiswa. Upaya ini dinilai penting agar karya kreatif tidak hanya berhenti sebagai produk,
tetapi memiliki nilai hukum dan ekonomi yang berkelanjutan.
Penguatan HKI Jadi Pembeda Produk Ekonomi Kreatif dan Perlindungan Intelektual
Direktur Kriya pada Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Kementerian Ekonomi Kreatif/Bekraf, Neli Yana,
menjelaskan bahwa produk ekonomi kreatif memiliki karakter berbeda dengan produk UMKM pada umumnya.
Fokus utamanya terletak pada penguatan IP, terutama perlindungan merek dan kekayaan intelektual.
Ia menegaskan bahwa karya ekonomi kreatif seharusnya terus berkembang dan tidak berhenti pada satu momentum produksi saja.
Di situlah nilai tambah ekonomi kreatif tercipta, yakni melalui proses inovasi yang berkelanjutan,
inspiratif, dan mampu memperkuat ekosistem ekonomi nasional.
Lebih lanjut, Neli Yana menyampaikan bahwa strategi ini bertujuan agar kekayaan budaya daerah dapat diolah secara kreatif
oleh generasi muda menjadi produk, ide, serta model bisnis yang relevan dengan kebutuhan pasar,
tanpa menghilangkan jati diri dan nilai budaya lokal.
Menurutnya, warisan budaya merupakan modal strategis bagi ekonomi kreatif yang tidak cukup hanya dijaga,
tetapi harus terus dihidupkan melalui kolaborasi lintas sektor, salah satunya lewat kegiatan UIC Creative Showcase.
Kolaborasi Talenta Muda Dorong Kriya Daerah Go Global
Neli Yana juga menyoroti masih adanya kesenjangan antara produk daerah dan produk perkotaan.
Untuk menjembatani hal tersebut, pihaknya terus mendorong kampanye rebranding, repackaging,
serta penguatan ekosistem kreatif di daerah agar produk lokal mampu menembus pasar global.
Keterlibatan talenta muda dinilai menjadi kunci penting sebagai penghubung antara tradisi dan pendekatan komunikasi yang relevan dengan generasi
saat ini. Dengan partisipasi anak muda, warisan budaya tidak sekadar menjadi simbol,
melainkan sumber inspirasi inovasi dan peluang ekonomi yang berkelanjutan.
Sementara itu, Chief Operating Officer USG Education, Ariyani Mawardi,
menyampaikan bahwa UIC Creative Showcase 2026 merupakan program tahunan hasil dari kolaborasi dengan
Dewan Kerajinan Nasional Daerah Provinsi Lampung, dengan dukungan Kementerian/Badan Ekonomi Kreatif.
Mengusung tema “Advancing Lampung’s Heritage and Its Living Treasure”, kegiatan ini memposisikan warisan budaya
sebagai aset hidup yang dapat diolah menjadi nilai tambah ekonomi melalui produk, desain, strategi, kampanye, hingga pengalaman kreatif.
Ia menambahkan, showcase tersebut merupakan puncak rangkaian kegiatan yang diawali dengan Study Week
ke Lampung pada 22–25 November 2025. Dalam tahap itu, para peserta melakukan riset lapangan untuk menggali akar budaya,
konteks sosial, serta potensi kriya dan UMKM lokal. Hasil riset kemudian diwujudkan dalam karya lintas disiplin
yang dipresentasikan kepada publik dan para pemangku kepentingan pada acara puncak Tuna55.