Pemerintah Kota Cebu, Filipina, menetapkan status keadaan darurat menyusul tragedi runtuhnya tempat pembuangan akhir (TPA) Binaliw yang menewaskan sejumlah warga, melukai puluhan orang, serta menyebabkan beberapa lainnya masih dinyatakan hilang. Insiden ini juga mengganggu sistem pengelolaan sampah di kota tersebut.
Hingga Selasa, 13 Januari pukul 17.00 waktu setempat, jumlah korban tewas tercatat meningkat menjadi 13 orang. Pihak berwenang menyebutkan, lima jenazah tambahan ditemukan sejak siang hari 12 Januari dalam operasi pencarian dan penyelamatan yang masih terus berlangsung.
Anggota Dewan Kota Cebu, David Tumulak, yang memimpin Dewan Pengurangan Risiko Bencana dan Manajemen Kota Cebu, mengatakan bahwa dua korban ditemukan pada 12 Januari, sementara satu jenazah lainnya ditemukan pada pagi hari 13 Januari.
Puluhan Korban Longsor Sampah di Filipina
Menurut Tumulak, korban pertama yang berhasil dievakuasi adalah seorang perempuan berusia 48 tahun yang ditemukan sekitar pukul 16.00 pada 12 Januari. Satu jam kemudian, tim penyelamat menemukan jenazah perempuan berusia 57 tahun. Korban ke-11, seorang perempuan berusia 50 tahun, ditemukan pada pagi hari berikutnya. Sementara korban terbaru yang berhasil diidentifikasi adalah seorang perempuan berusia 47 tahun dan seorang pria berusia 33 tahun.
“Seluruh korban telah diidentifikasi oleh pihak keluarga. Operasi pencarian dan penyelamatan masih terus berlanjut,” ujar Tumulak kepada media setempat, Inquirer.
Menanggapi kondisi darurat tersebut, Tumulak bersama anggota dewan lainnya, Joel Garganera, yang memimpin Komite Lingkungan, mengajukan resolusi penetapan status darurat. Resolusi tersebut disetujui oleh Dewan Kota Cebu pada 12 Januari.
Dengan ditetapkannya status darurat, pemerintah kota dapat menggunakan Dana Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Lokal untuk mendukung operasi pencarian, penyelamatan, serta penanganan dampak lanjutan dari insiden tersebut.
Wali Kota Cebu, Nestor Archival Jr, menyatakan bahwa upaya pencarian di lokasi longsor masih dilakukan dengan intensitas rendah. Hal ini dilakukan setelah peralatan milik perusahaan Davao Mining, yang membantu operasi evakuasi, mendeteksi kemungkinan adanya tanda-tanda kehidupan di area terdampak.
Sementara itu, Kantor Polisi Regional Visayas Tengah melaporkan bahwa hingga saat ini sebanyak 25 orang masih dinyatakan hilang, sementara 18 lainnya mengalami luka-luka akibat runtuhnya TPA yang terjadi pada 8 Januari lalu.
Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Daerah Filipina menegaskan bahwa tim penyelamat terus melakukan pencarian secara sistematis untuk menemukan para korban yang masih hilang.
Perintah Penghentian Operasional
Terkait insiden tersebut, Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam wilayah Visayas Tengah (DENR-7) telah mengeluarkan perintah penghentian sementara terhadap pengelola TPA Binaliw yang dikelola pihak swasta. Fasilitas tersebut ditutup sementara, kecuali untuk kegiatan yang berkaitan dengan operasi penyelamatan, evakuasi, dan pembersihan.
Setelah melakukan inspeksi pada 9 Januari, Biro Manajemen Lingkungan DENR-7 mengeluarkan perintah resmi kepada Prime Integrated Waste Solutions. Perusahaan tersebut dinilai melanggar ketentuan dalam Surat Edaran Memorandum EMB No. 2007-002.
DENR-7 juga memerintahkan perusahaan untuk menghadiri konferensi teknis Tuna55 guna mengklarifikasi fakta-fakta terkait insiden tersebut serta menyerahkan rencana kepatuhan dalam jangka waktu 90 hari.