Presiden Amerika Serikat Donald Trump muncul dalam sorotan global setelah mengunggah sebuah postingan di media sosial yang menyatakan dirinya sebagai “Presiden Sementara Venezuela” dengan status menjabat sejak Januari 2026. Unggahan ini muncul usai operasi militer AS di Venezuela yang berujung pada penahanan Presiden Nicolás Maduro dan istrinya, yang kini tengah menghadapi proses hukum di Amerika Serikat.
Dalam unggahannya di platform Truth Social, Trump menampilkan gambar yang dirancang mirip halaman biografi resmi dengan keterangan dirinya sebagai “Acting President of Venezuela” serta menyatakan masa jabatannya dimulai Januari 2026. Klaim itu belum diakui oleh pemerintahan Venezuela manapun atau komunitas internasional dan tidak tercantum dalam sumber resmi seperti Wikipedia.
Klaim tersebut muncul beberapa hari setelah pasukan khusus AS melakukan operasi di Caracas pada 3 Januari 2026, yang berakhir dengan penangkapan Maduro dan istrinya, Cilia Flores. Mereka kemudian diterbangkan ke New York untuk menghadapi tuduhan federal terkait perdagangan narkoba dan narco-terorisme. Pemerintah Venezuela dan pejabat internasional mengecam operasi itu, beberapa menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional dan penculikan.
Setelah operasi tersebut, kendali pemerintahan di Venezuela sempat menjadi sumber ketidakpastian. Wakil presiden Venezuela, Delcy Rodríguez, kemudian dilantik sebagai presiden interim, menolak klaim Trump dan menegaskan bahwa pemerintahan yang sah tetap berada di tangan aparat Venezuela.
Pertemuan dengan Pemimpin Oposisi di Gedung Putih
Dalam perkembangan terbaru, pemimpin oposisi Venezuela María Corina Machado dijadwalkan untuk bertemu dengan Presiden Trump di Gedung Putih pada Kamis ini, menurut pejabat senior Washington yang mengonfirmasi rencana tersebut. Pertemuan ini direncanakan berlangsung di tengah dinamika politik tuna55 yang terus bergolak menyusul intervensi militer AS.
Machado merupakan salah satu tokoh oposisi terkemuka yang telah vokal menentang pemerintahan Maduro dan mendukung perubahan politik di negaranya. Pertemuan dengan Trump diperkirakan akan membahas berbagai isu strategis mengenai masa depan Venezuela dan hubungan bilateral, termasuk transisi kekuasaan yang lebih luas dan dukungan terhadap oposisi.
Pernyataan Trump dan Reaksi Internasional
Trump sebelumnya menunjukkan sikap skeptis terhadap kemampuan Machado sebagai pemimpin, mempertanyakan dukungan domestiknya dalam pernyataan yang menuai kontroversi. Meski demikian, pertemuan tersebut menunjukkan adanya niatan untuk berdiskusi secara langsung mengenai langkah-langkah berikutnya bagi Venezuela.
Dalam isyarat simbolik menjelang pertemuan, Machado menyatakan keinginannya untuk berbagi atau bahkan menyerahkan Hadiah Perdamaian Nobel miliknya kepada Trump—sebuah gestur yang kemudian ditegaskan oleh Institut Nobel Norwegia tidak dapat dilakukan berdasarkan aturan yang berlaku.
Klaim Trump sebagai “presiden sementara” Venezuela dan pertemuan yang direncanakan dengan Machado terjadi di tengah situasi geopolitik yang sangat kompleks. Intervensi militer AS di negara Amerika Selatan tersebut telah memicu kritik dari sejumlah negara dan pakar hukum internasional, yang mempertanyakan legitimasi tindakan tanpa mandat internasional.